Merantau Ciri Khas Dari Masyarakat Pidie
Sejak 2007 dimekarkan menjadi Kab. Pidie Jaya– dulunya lebih dikenal dengan sebutan Pedir. Semasa konflik, daerah ini dikenal sebagai ‘daerah rawan’ oleh pemerintah Indonesia, karena merupakan basis pendukung pemberontakan DI TII-nya Daud Bereueh dan Hasan Tiro dengan GAM-nya (keduanya putra asli Pidie). Namun, banyak yang lupa bahwa sebenarnya masyarakat Pidie juga dikenal dengan warisan budaya turun-temurun yang sampai kini masih dianut kuat oleh masyarakatnya, yaitu semangat merantau.
![]() |
| Salah Satu Petikan Dari Kata-kata Merantau |
Oral diskursus tentang merantau dalam
masyarakat Pidie, pada dasarnya bukan hanya merupakan simbol independesi dan
kedewasaan, akan tetapi juga dorongan untuk sukses, membangun jaringan
berdakwah dan pengakuan akan eksistensi identitas (bagian penting dalam riwayat
hidup). Oleh karena demikian kentalnya tradisi merantau di Pidie, banyak yang
menyebut mereka dengan istilah ‘Cina Hitam’ (The Black Chinese). Ini barangkali
merujuk kepada prestasi mereka yang dianggap menyamai prestasi kesuksesan
ekonomi dan perdagangan bangsa Cina yang sebenarnya. Putera kelahiran Pidie
dikenal luas sebagai orang yang sukses di perantauan, tidak hanya sebagai
pedagang atau pengusaha maupun politisi yang mendapat kedudukan penting di
birokrasi pemerintahan.
Mengapa Cina Hitam? Meskipun klaim Cina
Hitam juga ditasbihkan ke warga Bugis di Sulawesi Selatan, tradisi migrasi di
Pidie sudah dikenal sejak lama. Kendati sektor utama penggerak perekonomian
Pidie adalah pertanian, namun ini bukan berarti pola pikir, semangat dan cara
pandang mereka sangat tertutup dan terbelakang, sebagaimana lazimnya masyarakat
agraris. Mereka bahkan berpikir lebih maju, visioner, dan bercita-cita tinggi
atau outward looking (Haris 1997:117-118). Sikap berpangku tangan bukanlah ciri
khas masyarakat di sana.
Kebiasaan merantau masyarakat
Pidie kabarnya juga sama dengan kebiasaan masyarakat Bireuen. Masyarakat Pidie
dikaitkan pula dengan urang awak di Padang – Sumatera Barat, karena merantau
selalu diasosiasikan dengan berdagang. Alasan lain mengapa diindetikkan dengan
bangsa Cina (dulu disebut Tionghoa) adalah karena mereka dikenal senang
bermigrasi ke seluruh dunia dan akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi.
Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan
persistensi, dan kegigihan bangsa Cina. Lalu, budaya Cina yang beragama Budha
juga hampir serupa dengan budaya masyarakat Pidie yang beragama Hindu (dari
India) sebelum datangnya Islam.
Kebiasaan masyarakat Cina salah satunya adalah gemar menyabung ayam, kebiasaan yang juga dapat dijumpai di masyarakat Pidie. Sama halnya dengan adat peusijuek yang masih ada sampai sekarang juga disinyalir berasal dari budaya Hindu. Upacara tepung tawar bertujuan mendoakan keselamatan dan kesuksesan yang bersangkutan. Jika diperhatikan, ritual ini mirip dengan prosesi pernikahan orang India. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa orang Pidie itu rajin menabung bahkan cenderung pelit layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi di masa depan. Sehingga kemudian berkembang istilah kriet lagee Pidie atau pelit seperti orang Pidie. Sedangkan kosakata itam (bahasa Aceh untuk hitam) yang dilekatkan setelah kata Cina lebih dikarenakan wajah dan postur fisik kebanyakan masyarakat Pidie mirip dengan perawakan orang keturunan India atau dulunya disebut dengan Hindustan di Asia Selatan.
Kebiasaan masyarakat Cina salah satunya adalah gemar menyabung ayam, kebiasaan yang juga dapat dijumpai di masyarakat Pidie. Sama halnya dengan adat peusijuek yang masih ada sampai sekarang juga disinyalir berasal dari budaya Hindu. Upacara tepung tawar bertujuan mendoakan keselamatan dan kesuksesan yang bersangkutan. Jika diperhatikan, ritual ini mirip dengan prosesi pernikahan orang India. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa orang Pidie itu rajin menabung bahkan cenderung pelit layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi di masa depan. Sehingga kemudian berkembang istilah kriet lagee Pidie atau pelit seperti orang Pidie. Sedangkan kosakata itam (bahasa Aceh untuk hitam) yang dilekatkan setelah kata Cina lebih dikarenakan wajah dan postur fisik kebanyakan masyarakat Pidie mirip dengan perawakan orang keturunan India atau dulunya disebut dengan Hindustan di Asia Selatan.
Di Pidie sendiri, menurut kesaksian
Rosihan Anwar (1986: 30) ‘kebiasaan masyarakatnya mirip di India, dimana sapi
berkeliaran dengan bebas di jalanan. Perawakan orangnya umumnya juga tampan,
berhidung mancung, berkumis lebat dan berkulit hitam manis’. Kebanyakan
masyarakat Pidie bermata sipit seperti Cina tapi berkulit hitam seperti Hindia.
Perkawinan silang dua budaya bahkan termasuk percampuran ras inilah yang
kemudian membuat masyarakat Pidie dipanggil dengan sebutan Cina Itam.
Dari filosofi ke praktek
Salah satu spirit yang memicu kesuksesan
perantauan masyarakat Pidie adalah beberapa prinsip yang mereka anut, khususnya
dalam dunia dagang. Falsafah inilah yang menjadi sumber inspirasi mereka. Dalam
hal ini kabarnya orang Pidie menerapkan apa yang disebut politik dagang.
Falsafah yang paling sering didengar adalah ‘modal siploh-dipeubloe
sikureung, lam tiep-tiep rueung na laba’. Artinya, modal sepuluh-dijual
sembilan, dalam setiap ruang (transaksi pembelian) ada keuntungan. Politik
dagang semacam ini membuat para saingan dagang, seperti orang Bireuen dan
Padang khawatir. Bahkan mereka ini kemudian mengeluhkan kebijakan tersebut.
Pada kenyataannya dengan menurunkan
harga barang, mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan. Sebuah strategi dagang
yang cukup membuat mereka cepat sukses dimana saja. Selain itu pelayanannya
bisa jadi berbeda dan spesial. Untuk membuka toko saja misalnya, pada hari
pertama mereka menyediakan makanan khas Aceh atau tumpeng kuning. Selain itu
bagi orang-orang non-Pidie di Aceh ada semacam anekdot yang berkembang bahwa kita
disarankan berhati-hati dalam berteman dengan orang Pidie. Ini karena jika
seseorang punya toko atau kedai, awalnya pada tahun-tahun pertama merantau,
mereka hanya meminta berjualan dan membuka lapak di emperan depan toko.
Kemudian setelah dua hingga lima tahun berlalu, maka orang Pidie itu yang akan
menjadi pemilik toko (toke) dan kemudian malah sang pemilik toko yang dulu
gantian berjualan di emperan toko yang dulu miliknya.
Kebanyakan orang Pidie yang merantau
berprofesi sebagai pedagang baik kecil ataupun besar. Di kota-kota besar di
luar Aceh, seperti di Medan, Jakarta atau Bandung para pedagang makanan khas mi
Aceh berasal dari Pidie. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa ada yang
menjadi pedagang, pengembara, dan bahkan nasionalis – menjadi tokoh publik,
orang penting atau politisi ulung (Graf,et.all 2010:162). Sehingga tidak
mengherankan jika kebanyakan politisi asal Aceh yang duduk di kementerian
adalah orang Pidie, kebanyakan anggota dewan DPR-MPR RI di Senayan termasuk
mereka yang vokal juga dari Pidie. Ibrahim Hasan menteri zaman Soeharto, Hasballah
MS Menteri Hukum-HAM zaman Gus Dur, dan kini Menteri BUMN, Mustafa Abu Bakar,
kesemuanya orang Pidie.
Mr. Teuku Muhammmad Hasan salah seorang
anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan RI juga orang Pidie. Pimpinan partai
kharismatik seperti Tgk H.Ismail Hasan Meutareum di Partai Persatuan
Pembangunan juga asal Pidie. Konglomerat terkenal yang kemudian menjadi
pengusaha bonafid di Jakarta Indonesia adalah Ibrahim Risyad juga putra asli
Reubee, Pidie. Dan ulama kondang di Aceh dan Indonesia juga ada yang berasal
dari Kabupaten Pidie, sebut saja seperti Abdullah Ujong Rimba dan Tgk Panglima
Polem.
Tidaklah aneh jika lalu sebutan ‘Cina
Hitam’ melekat kuat dalam perjalanannya kemudian. Memang pernah ada sebutan
‘Minangnya Aceh’, tapi itu tidaklah populer. Label ini menjadi familiar karena
dari aspek budaya dan fisik orang Pidie di Aceh adalah perpaduan dua lintas
budaya ini. Mekanisme budaya (Widyawati 2008) tersebut kemudian terus
berkembang sampai sekarang. Salah satu dasar filosofis konsep merantau bagi
warga Pidie adalah keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik (Kell,
2010) dan semangat berdakwah (Hurgronje (1906 II:31).
Dalam konteks aplikatifnya budaya
merantau ini lebih sering diasosiasikan dengan berdagang. Karena memang mereka
dikenal sangat ulung, lihai dalam berdagang serta pintar dalam merebut hati
pembeli. Namun sesungguhnya konsep merantau bagi masyarakat Pidie tidaklah
melulu hanya mengembara demi status sosial ekonomi yang lebih baik. Kehidupan
yang lebih baik di sini adalah juga dimaksud agar mereka sukses dalam dua hal,
yaitu sukses dunia-akhirat, ke barat dan ke timur, sukses berdagang dan juga
belajar menuntut ilmu.
Konsep ini kemudian diterjemahkan dalam
dua bentuk: Pertama, jak u barat (Pergi ke barat) atau
menuntut ilmu agama dan belajar ilmu praktis keduniaan melalui dayah atau
instititusi pendidikan dan Kedua, jak u timu (Pergi ke timur)
atau berdagang. Merantau ini pada prakteknya kemudian juga tidak eksklusif bagi
masyarakat biasa dan monopoli kaum lelaki (Melalatoa 1997), tapi juga berlaku
bagi semua golongan masyarakat, termasuk kaum bangsawan dan juga kaum
perempuan.
Sehingga merantaunya orang Pidie
tidaklah semata demi alasan keuangan, tapi juga semangat untuk maju dan
memperluas jaringan dan saudara. Meskipun sektor penggerak ekonomi utama adalah
bertani, namun masyarakat Pidie punya visi hidup yang maju dan terbuka, tidak
sebagaimana masyarakat agraris lain pada umumnya. Sehingga adat merantau warga
Pidie di Aceh adalah sebuah khasanah yang perlu terus diwariskan dari generasi ke
generasi.
Sumber: baranom.wordpress.com
Penulis: Saiful Akmal

