Bukti Ilmiah ketika Berbicara Tentang Ganja
Tahun ini, International Centre for Science in Drug Policy (ICSDP) mengeluarkan publikasi berjudul “Using Evidence to Talk About Cannabis” (Gunakan Bukti Ilmiah ketika Berbicara tentang Ganja). ICDPS adalah jaringan peneliti dan akademisi global yang memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan masyarakat maupun individu pengguna zat-zat terlarang dengan cara advokasi melalui publikasi bukti-bukti ilmiah.
Selain di level pembuat kebijakan, perbincangan mengenai perubahan kebijakan ganja sudah menjadi diskursus masyarakat. Namun sering kali perbincangan tersebut hanya didasarkan pada anggapan-anggapan yang sesungguhnya tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah. Publikasi ini adalah alat sederhana yang dapat digunakan untuk menjadikan perbincangan mengenai perubahan kebijakan ganja dibawa pada level yang lebih rasional, tidak sekedar menggunakan anggapan-anggapan umum semata.
Publikasi ini dibagi ke dalam dua bab: “Common Claims on Cannabis Use” (Anggapan Umum tentang Penggunaan Ganja) dan “Common Claims on Cannabis Regulation” (Anggapan Umum tentang Regulasi Ganja).
Bab “Common Claims on Cannabis Use” berisi bukti-bukti ilmiah untuk menanggapi anggapan umum yang sering kali kita dengar mengenai penggunaan ganja; seperti potensi adiksi ganja, ganja adalah batu loncatan menuju zat ilegal lainnya (gateway drug), peningkatan kandungan zat psikoaktif ganja, dan dampak penggunaan ganja pada paru-paru, jantung, serta otak (IQ, fungsi kognisi dan resiko skizofrenia).
Bab “Common Claims on Cannabis Regulation” berisi bukti-bukti ilmiah untuk menanggapi anggapan umum yang sering kali kita dengar mengenai regulasi ganja; seperti dampak regulasi pada ketersediaan dan pengguna, kejahatan Narkotika, gangguan saat berkendara, daerah wisata ganja, dan industri ganja.
Dalam artikel ini, kami hanya mengutip beberapa contoh anggapan dan tanggapan yang tercantum di dalam bab “Common Claims on Cannabis Use”. Apabila pembaca ingin mendapatkan tanggapan yang lebih komprehensif, silahkan baca laporan lengkapnya di sini.
Anggapan umum :
Ganja sama adiktifnya dengan Heroin. – Daily Telegraph (FOX, 2014)
Tanggapan :
Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa potensi adiksi ganja dan heroin sama besar.Studi ilmiah menemukan bahwa tidak sampai 1 dari 10 orang yang mengunakan ganja seumur hidupnya mengalami ketergantungan. Hal ini berarti lebih dari 90% pengguna tidak mengalami ketergantungan (Anthony et al., 1994). Sebaliknya, kemungkinan pengguna heroin menjadi ketergantungan adalah 23,1% (Anthony et al., 1994). Ketika diteliti lebih jauh lagi, ternyata potensi ketergantungan ganja secara signifikan lebih rendah dibandingkan zat-zat illegal lainnya; 20,9% untuk pengguna kokain, 22,7% untuk pengguna alkohol, dan 67,5% untuk pengguna nikotin (Lopez-Quintero et al., 2011).
Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa potensi adiksi ganja dan heroin sama besar.Studi ilmiah menemukan bahwa tidak sampai 1 dari 10 orang yang mengunakan ganja seumur hidupnya mengalami ketergantungan. Hal ini berarti lebih dari 90% pengguna tidak mengalami ketergantungan (Anthony et al., 1994). Sebaliknya, kemungkinan pengguna heroin menjadi ketergantungan adalah 23,1% (Anthony et al., 1994). Ketika diteliti lebih jauh lagi, ternyata potensi ketergantungan ganja secara signifikan lebih rendah dibandingkan zat-zat illegal lainnya; 20,9% untuk pengguna kokain, 22,7% untuk pengguna alkohol, dan 67,5% untuk pengguna nikotin (Lopez-Quintero et al., 2011).
Anggapan umum :
Sekarang, ganja 300% – 400% lebih kuat dibanding 30 tahun lalu. – Health Canada Advertisement (Daro, 2014)
Respon :
Perhatian terhadap peningkatan kandungan psikoaktif ganja didasari oleh asumsi bahwa semakin tinggi kandungan psikoaktif ganja semakin berbahaya bagi kesehatan manusia. Bagaimanapun, resiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan dari peningkatan kandungan psikoaktif tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli kesehatan. Di samping itu, beberapa peneliti menganggap bahwa peningkatan kandungan psikoaktif ganja justru menurunkan resiko kesehatan (terutama yang berkaitan dengan merokok), dengan cara mengurangi volume konsumsi ganja (Van der Pol et al., 2014).
Perhatian terhadap peningkatan kandungan psikoaktif ganja didasari oleh asumsi bahwa semakin tinggi kandungan psikoaktif ganja semakin berbahaya bagi kesehatan manusia. Bagaimanapun, resiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan dari peningkatan kandungan psikoaktif tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli kesehatan. Di samping itu, beberapa peneliti menganggap bahwa peningkatan kandungan psikoaktif ganja justru menurunkan resiko kesehatan (terutama yang berkaitan dengan merokok), dengan cara mengurangi volume konsumsi ganja (Van der Pol et al., 2014).
Anggapan umum :
“Saya menolak legalisasi ganja karena ganja merupakan batu loncatan (gateway) menuju Narkotika.” – Enrique Pena Nieto, Presiden Meksiko (Khazan, 2013)
Tanggapan :
Bukti ilmiah menunjukan bahwa memang secara umum penggunaan narkotika “kelas berat”, seperti kokain dan heroin, diawali dengan penggunaan ganja (W. Hall, 2014). Bagaimanapun, tidak ada bukti yang mampu menunjukan bahwa penggunaan ganja menyebabkan atau meningkatkan kemungkinan seorang menggunakan zat illegal lainnya.
Bukti ilmiah menunjukan bahwa memang secara umum penggunaan narkotika “kelas berat”, seperti kokain dan heroin, diawali dengan penggunaan ganja (W. Hall, 2014). Bagaimanapun, tidak ada bukti yang mampu menunjukan bahwa penggunaan ganja menyebabkan atau meningkatkan kemungkinan seorang menggunakan zat illegal lainnya.
Para peneliti kemudian mengeksplorasi penjelasan alternatif untuk menjelaskan kenapa pengguna Narkotika “kelas berat” cenderung didahului oleh penggunaan ganja. Kemungkinan terbesar pengguna ganja beralih ke zat lainnya adalah karena mereka telah mengenal pasar gelap Narkotika dimana menyediakan berbagai pilihan zat-zat terlarang atau karena alasan yang sifatnya lebih personal (seperti mencari sensasi atau perilaku impulsif) dimana memungkinkan mereka mencoba zat lain (W.D. Hall & Lynskey, 2005).
Di beberapa negara, menariknya, penggunaan alkohol dan tembakau memiliki hubungan yang lebih tinggi dengan penggunaan Narkotika “kelas berat” apabila dibandingkan dengan penggunaan ganja (Degenhardt et al., 2010).
Anggapan umum :
Penggunaan ganja dapat menyebabkan kerusakan fatal organ jantung dan pembuluh darah.– World Federation Against Drugs (World Federation Against Drugs, 2015)
Penggunaan ganja dapat menyebabkan kerusakan fatal organ jantung dan pembuluh darah.– World Federation Against Drugs (World Federation Against Drugs, 2015)
Tanggapan :
Sampai saat ini, dampak pengunaan ganja terhadap kesehatan jantung belum sepenuhnya dipahami (Volkow et al., 2014). Peneliti baru dapat menemukan adanya hubungan antara penggunaan ganja dengan efek- efek akut yang dapat mencetuskan serangan jantung atau stroke (Jouanjus, Lapeyre-Mestre, & Micallef, 2014; Thomas, Kloner, & Rezkalla, 2014), khususnya pada fase usia dewasa akhir (W. Hall, 2014). Bagaimanapun, belum ada penelitian yang mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat pada fenomena tersebut.
Sampai saat ini, dampak pengunaan ganja terhadap kesehatan jantung belum sepenuhnya dipahami (Volkow et al., 2014). Peneliti baru dapat menemukan adanya hubungan antara penggunaan ganja dengan efek- efek akut yang dapat mencetuskan serangan jantung atau stroke (Jouanjus, Lapeyre-Mestre, & Micallef, 2014; Thomas, Kloner, & Rezkalla, 2014), khususnya pada fase usia dewasa akhir (W. Hall, 2014). Bagaimanapun, belum ada penelitian yang mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat pada fenomena tersebut.
Anggapan umum :
Penggunaan ganja menurunkan IQ hingga 8 poin.
Penggunaan ganja menurunkan IQ hingga 8 poin.
Tanggapan :
Terdapat sepercik bukti ilmiah yang mendukung pernyataan bahwa penggunaan ganja menurunkan tingkat intelegensi; berdasarkan pengukuran IQ. Sebuah penelitian (Meier et al., 2012) sering kali dipakai untuk menyokong anggapan bahwa penggunaan ganja berhubungan dengan penurunan delapan poin IQ. Generalisasi anggapan berdasarkan sebuah studi adalah masalah, terutama bila penurunan delapan poin IQ tersebut hanya tergambar melalui sejumlah kecil sampel (38 responden) atau setara dengan 0,037% dari total sampel. Setelah melihat data yang sama secara lebih dalam, kemungkinan terbesar dari penurunan IQ tersebut lebih condong kepada faktor sosioekonomi yang tidak diukur dalam riset tersebut (Rogeberg, 2013).
Terdapat sepercik bukti ilmiah yang mendukung pernyataan bahwa penggunaan ganja menurunkan tingkat intelegensi; berdasarkan pengukuran IQ. Sebuah penelitian (Meier et al., 2012) sering kali dipakai untuk menyokong anggapan bahwa penggunaan ganja berhubungan dengan penurunan delapan poin IQ. Generalisasi anggapan berdasarkan sebuah studi adalah masalah, terutama bila penurunan delapan poin IQ tersebut hanya tergambar melalui sejumlah kecil sampel (38 responden) atau setara dengan 0,037% dari total sampel. Setelah melihat data yang sama secara lebih dalam, kemungkinan terbesar dari penurunan IQ tersebut lebih condong kepada faktor sosioekonomi yang tidak diukur dalam riset tersebut (Rogeberg, 2013).
Anggapan :
Penggunaan ganja merusak fungsi kognisi.
Penggunaan ganja merusak fungsi kognisi.
Tanggapan :
Bukti ilmiah menyatakan bahwa ketika dalam pengaruh ganja, pengguna mengalami beberapa efek pada fungsi kognisinya, seperti fungsi pembelajaran dan memori (Crane, Schuster, Fusar-Poli, & Gonzalez, 2013). Beberapa studi ilmiah berhasil menemukan hubungan antara pengguna berat & jangka panjang ganja dengan kerusakan fungsi kognisi seperti memori, atensi, dan pembelajaran verbal, terutama jika seorang mulai menggunakan ganja di saat fase usia remaja (W. Hall, 2014; Volkow, Baler, Compton, & Weiss, 2014). Masalah muncul ketika studi-studi tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan ganja menyebabkan kerusakan permanen fungsi kognisi. Generalisasi hasil penelitian bahwa penggunaan ganja menyebabkan penurunan fungsi kognisi adalah menyesatkan.
Bukti ilmiah menyatakan bahwa ketika dalam pengaruh ganja, pengguna mengalami beberapa efek pada fungsi kognisinya, seperti fungsi pembelajaran dan memori (Crane, Schuster, Fusar-Poli, & Gonzalez, 2013). Beberapa studi ilmiah berhasil menemukan hubungan antara pengguna berat & jangka panjang ganja dengan kerusakan fungsi kognisi seperti memori, atensi, dan pembelajaran verbal, terutama jika seorang mulai menggunakan ganja di saat fase usia remaja (W. Hall, 2014; Volkow, Baler, Compton, & Weiss, 2014). Masalah muncul ketika studi-studi tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan ganja menyebabkan kerusakan permanen fungsi kognisi. Generalisasi hasil penelitian bahwa penggunaan ganja menyebabkan penurunan fungsi kognisi adalah menyesatkan.
Anggapan :
Ganja adalah jenis Narkotika yang dapat menyebabkan efek jangka panjang, seperti skizofrenia. – Kevin Sabet, Smart Approaches to Marijuana (Baca, 2015)
Ganja adalah jenis Narkotika yang dapat menyebabkan efek jangka panjang, seperti skizofrenia. – Kevin Sabet, Smart Approaches to Marijuana (Baca, 2015)
Tanggapan :
Ketika beberapa studi ilmiah memperlihatkan hubungan antara penggunaan ganja dengan peningkatan gejala-gejala yang berkaitan dengan skizofrenia (Fergusson, Horwood, & Ridder, 2005; Zammit, Allebeck, Andreasson, Lundberg, & Lewis, 2002), studi terbaru menyimpulkan bahwa penggunaan cannabis tidak meningkatkan resiko skizofrenia (Proal et al., 2014). Para peneliti sudah berulang kali menyatakan sulitnya melihat hubungan sebab-akibat pada studi-studi mengenai penggunaan ganja dengan penyakit mental (Moore et al., 2007; Volkow et al., 2014). Kesimpulannya adalah walaupun seorang skizofrenia mungkin saja pernah menggunakan ganja, peneliti tidak dapat menyatakan secara tegas bahwa penggunaan ganja menyebabkan seorang mengalami skizofrenia (Pierre, 2011).
Ketika beberapa studi ilmiah memperlihatkan hubungan antara penggunaan ganja dengan peningkatan gejala-gejala yang berkaitan dengan skizofrenia (Fergusson, Horwood, & Ridder, 2005; Zammit, Allebeck, Andreasson, Lundberg, & Lewis, 2002), studi terbaru menyimpulkan bahwa penggunaan cannabis tidak meningkatkan resiko skizofrenia (Proal et al., 2014). Para peneliti sudah berulang kali menyatakan sulitnya melihat hubungan sebab-akibat pada studi-studi mengenai penggunaan ganja dengan penyakit mental (Moore et al., 2007; Volkow et al., 2014). Kesimpulannya adalah walaupun seorang skizofrenia mungkin saja pernah menggunakan ganja, peneliti tidak dapat menyatakan secara tegas bahwa penggunaan ganja menyebabkan seorang mengalami skizofrenia (Pierre, 2011).
Sumber: www.lgn.or.id







