Bikin Merinding, Pengakuan Orang Belanda Tentang Pejuang Aceh
![]() |
| Pasukan Belanda Zaman Dahulu |
Tak
sedikit dari kita yang terlalu salut dengan semangat perang pasukan Bushido
Jepang, maupun pasukan berani mati dari negara lain. Kita sungguh telah
melupakan sejarah, bahwa bangsa lain begitu mengagumi semangat kepahlawanan
moyang kita.
Aceh dikenal dengan gengsi, ego dan menjaga martabatnya. Pantang terhina. Kehormatan lebih berharga dari nyawa. Ini yang membuat Belanda pusing menghadapi bangsa Aceh selama ratusan tahun sekaligus menyesal telah memulai perang dengan bangsa Aceh. Apa mau dikata, walaupun Belanda menyesal berperang dengan Aceh, perang itu harus tetap diteruskan untuk menutupi rasa malu mereka sebagai sebuah bangsa yang dikenal kuat di Eropa.
Perang yang dilancarkan Belanda di Aceh sejak dideklarasikan pada 26 Maret 1873, disebut-sebut sebagai perang terlama dan terbanyak menguras kantong Belanda untuk membiayai perang. Pernyataan itu disampaikan oleh sejumlah penulis Belanda sendiri.
Dalam buku Perang Kolonial Belanda di Aceh yang diterbitkan tahun 1977, dimunculkan kutipan dari sejumlah peneliti Belanda. Beberapa diantaranya memuji kepahlawanan orang Aceh dalam menghadapi invasi Belanda. Berikut petikannya.
Penulis Belanda H.C. Zentgraaff dalam bukunya yang masyur, Atjeh, menulis:
Aceh dikenal dengan gengsi, ego dan menjaga martabatnya. Pantang terhina. Kehormatan lebih berharga dari nyawa. Ini yang membuat Belanda pusing menghadapi bangsa Aceh selama ratusan tahun sekaligus menyesal telah memulai perang dengan bangsa Aceh. Apa mau dikata, walaupun Belanda menyesal berperang dengan Aceh, perang itu harus tetap diteruskan untuk menutupi rasa malu mereka sebagai sebuah bangsa yang dikenal kuat di Eropa.
Perang yang dilancarkan Belanda di Aceh sejak dideklarasikan pada 26 Maret 1873, disebut-sebut sebagai perang terlama dan terbanyak menguras kantong Belanda untuk membiayai perang. Pernyataan itu disampaikan oleh sejumlah penulis Belanda sendiri.
Dalam buku Perang Kolonial Belanda di Aceh yang diterbitkan tahun 1977, dimunculkan kutipan dari sejumlah peneliti Belanda. Beberapa diantaranya memuji kepahlawanan orang Aceh dalam menghadapi invasi Belanda. Berikut petikannya.
Penulis Belanda H.C. Zentgraaff dalam bukunya yang masyur, Atjeh, menulis:
“Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh,
baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk
sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di
antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi
kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh
perang terkenal kita”.
Pada halaman lain buku yang sama, Zentgraff menambahkan;
“Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang
pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini kita mendengar bahwa
tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan
kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan
berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain.”
Pada halaman 100 buku Atjeh, Zentgraff menulis;
“Demikianlah berakhir kehidupan Teungku di Barat
dan ulama-ulama termasyhur lainnya di daerah itu yang lebih menyukai “mati
syahid”daripada “melaporkan diri” (menyerah-kalah kepada lawan)… dan adakah satu
bangsa di permukaan bumi ini yang tidak akan menulis di dalam buku-buku
sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroik dengan penghargaan yang
setinggi-tingginya?.”
Penulis Belanda yang lain, A.Doup, dalam buku berjudul Gedenkboek van het Korps Marechaussee 1890—1940 (Mengenang Korps Marsose) yang terbit tahun 1942, pada halaman 248 menulis;
“Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan
kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang
Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsose serta kekagumannya
akan keberanian, kerelaan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya
tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akalnya dalam menciptakan
dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya
sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin
brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan
patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris
secara teratur).”
Masih ada lagi komentar dari Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-Oorlog (Perang Aceh) yang terbit tahun 1969. Buku ini adalah salah satu buku yang kerap menjadi rujukan ketika menulis Perang Belanda di Aceh. Pada halaman 293, Paul menulis;
“Perang Belanda di Aceh tidak berakhir pada
tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914 terentang seutas benang merah ke tahun
1942, sebuah jejak pembunuhan dan pemukulan sampai mati, dari perlawanan di
bawah sampai ke atas tanah yang menyebar luas sedemikian rupa dari tahun-tahun
1925 sampai tahun 1927 dan kemudian lagi dalam tahun 1933 sehingga kemudian
terjelmalah pemberontakan-pemberontakan setempat. Puluhan “pembunuhan Aceh”
yang terjadi di antara tahun-tahun itu cukup diketahui di seluruh Hindia
Belanda. Pada masa-masa belakangan ini disadari bahwa benang merah itu menjurus
dari tahun 1914 ke tahun 1942 sehingga sejarahnya sejak tahun 1873 sampai
dengan tahun 1942, yakni saat orang orang Belanda meninggalkan daerah Aceh
untuk selama-lamanya, harus dianggap sebagai sebuah perang Belanda yang besar
di Aceh atau boleh juga disebut sebagai sebuah deret, terdiri dari empat atau
lima buah peperangan Belanda di Aceh yang berbagai-bagai sifatnya.”
Masih dalam buku yang sama, pada halaman 301, Paul menambahkan;
“Aceh adalah daerah terakhir yang ditaklukkan
oleh Belanda dan merupakan daerah pertama yang terlepas dari kekuasaannya.
Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di
bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan
ini sudah lebih daripada cukup.”
Sementara Pierre Heijboer, dalam buku Klamboes, Klewangs, Klapperbomen, yang terbit tahun 1977 pada halaman 137 menulis;
“Orang-orang Aceh ternyata bukan saja
pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun
kubu-kubu pertahanan yang ulung sekali.”
Sumber: atjehpost.com
